Bandung, 21 September 2026 – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan empat kawasan olahraga untuk dikembangkan menjadi destinasi sport tourism atau wisata olahraga. Pengembangan tersebut diarahkan agar fasilitas olahraga tidak hanya digunakan untuk pertandingan dan latihan atlet, tetapi juga menjadi pusat kegiatan masyarakat sekaligus menarik kunjungan wisatawan. Empat kawasan yang masuk dalam rencana pengembangan berada di sejumlah wilayah strategis Jawa Barat dengan karakter dan potensi olahraga berbeda. Pemanfaatan kawasan olahraga sebagai destinasi wisata juga diharapkan mampu menggerakkan aktivitas ekonomi di sekitarnya. Konsep tersebut menggabungkan penyelenggaraan kompetisi, aktivitas rekreasi, serta daya tarik destinasi dalam satu ekosistem. Jawa Barat menilai potensi tersebut cukup besar karena memiliki fasilitas olahraga dan bentang alam yang beragam.
Pengembangan sport tourism menjadi salah satu upaya untuk memaksimalkan aset olahraga yang selama ini telah dibangun pemerintah. Stadion, arena pertandingan, lintasan olahraga, hingga fasilitas pendukung dapat dimanfaatkan lebih luas di luar penyelenggaraan kompetisi resmi. Kawasan tersebut nantinya diharapkan tetap hidup ketika tidak sedang digunakan untuk pertandingan. Masyarakat dapat memanfaatkannya untuk berolahraga, mengikuti kegiatan komunitas, atau menghadiri berbagai acara. Wisatawan dari luar daerah juga dapat datang untuk mengikuti maupun menyaksikan agenda olahraga. Dengan pola tersebut, fasilitas olahraga diharapkan memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang lebih panjang.
Salah satu kawasan yang memiliki potensi besar adalah kompleks olahraga di sekitar Stadion Gelora Bandung Lautan Api atau GBLA di Kota Bandung. Stadion tersebut memiliki kapasitas besar dan telah menjadi salah satu ikon olahraga di Jawa Barat. Kawasan di sekitarnya memiliki ruang yang dapat dikembangkan untuk mendukung kegiatan olahraga masyarakat maupun penyelenggaraan acara berskala besar. Akses menuju kawasan juga terus menjadi perhatian agar pergerakan pengunjung dapat berlangsung lebih mudah. Jika dikembangkan secara terintegrasi, kawasan GBLA dapat menjadi tujuan bagi penggemar sepak bola sekaligus masyarakat yang ingin melakukan aktivitas olahraga. Kehadiran kegiatan rutin juga berpotensi menggerakkan usaha kuliner, transportasi, penginapan, hingga ekonomi kreatif di sekitarnya.
Kawasan Stadion Si Jalak Harupat di Kabupaten Bandung juga memiliki modal kuat untuk dikembangkan melalui konsep serupa. Kompleks tersebut telah berulang kali menjadi lokasi pertandingan sepak bola nasional maupun internasional serta memiliki berbagai fasilitas olahraga pendukung. Pengalaman menyelenggarakan pertandingan besar menjadi modal penting dalam menarik kembali berbagai agenda olahraga. Pemerintah dapat mengembangkan aktivitas di luar pertandingan agar kunjungan masyarakat tidak bergantung pada kalender kompetisi. Kegiatan lari, festival olahraga, pertandingan komunitas, maupun agenda rekreasi dapat menjadi bagian dari pemanfaatannya. Integrasi dengan destinasi wisata Kabupaten Bandung juga membuka peluang menghadirkan paket perjalanan berbasis olahraga.
Potensi lain terdapat di kawasan Arcamanik, Kota Bandung, yang dikenal memiliki berbagai fasilitas untuk pembinaan dan latihan olahraga. Kawasan tersebut dapat diarahkan menjadi ruang yang mempertemukan olahraga prestasi dengan aktivitas masyarakat. Berbagai cabang olahraga dapat memanfaatkan fasilitas yang tersedia untuk latihan, kompetisi, maupun penyelenggaraan kegiatan komunitas. Kehadiran atlet juga dapat dikembangkan menjadi daya tarik melalui kegiatan edukasi dan pengalaman olahraga bagi masyarakat. Konsep wisata olahraga tidak selalu membutuhkan pertandingan dengan jumlah penonton besar. Aktivitas seperti pelatihan, coaching clinic, kompetisi usia muda, hingga festival komunitas dapat turut mendatangkan pengunjung.
Selain fasilitas yang telah tersedia, pengembangan kawasan olahraga perlu dibarengi dengan peningkatan sarana pendukung. Akses transportasi, area parkir, ruang publik, fasilitas bagi penyandang disabilitas, toilet, tempat makan, hingga sistem keamanan menjadi bagian penting dalam membangun destinasi yang nyaman. Pengunjung yang datang untuk menyaksikan pertandingan memiliki kebutuhan berbeda dengan atlet yang mengikuti kompetisi. Demikian pula wisatawan yang datang bersama keluarga membutuhkan fasilitas rekreasi dan pelayanan yang memadai. Karena itu, pembangunan sport tourism tidak cukup hanya mengandalkan stadion atau arena pertandingan. Kawasan secara keseluruhan perlu dirancang agar dapat memberikan pengalaman yang menarik bagi berbagai kelompok pengunjung.
Pengembangan empat kawasan tersebut juga dapat dihubungkan dengan karakter geografis Jawa Barat yang mendukung beragam kegiatan olahraga. Selain sepak bola dan olahraga di dalam arena, provinsi ini mempunyai potensi untuk kegiatan lari, balap sepeda, olahraga air, hingga aktivitas luar ruang. Kalender kegiatan dapat disusun agar penyelenggaraan acara tersebar sepanjang tahun. Peserta yang datang dari luar daerah tidak hanya mengikuti kompetisi, tetapi juga berpotensi menginap dan mengunjungi destinasi wisata lain. Pola perjalanan seperti inilah yang menjadi salah satu kekuatan utama sport tourism. Dampak ekonominya dapat menjangkau hotel, restoran, UMKM, jasa transportasi, serta pelaku ekonomi kreatif.
Penyelenggaraan kompetisi berskala nasional maupun internasional menjadi salah satu instrumen untuk memperkenalkan kawasan olahraga Jawa Barat kepada pasar yang lebih luas. Ketika sebuah acara mampu menarik ribuan peserta dan penonton, perputaran ekonomi tidak hanya terjadi di lokasi pertandingan. Penginapan, pusat kuliner, objek wisata, hingga pusat oleh-oleh dapat ikut memperoleh manfaat. Promosi melalui media sosial para peserta juga memberikan dampak tambahan bagi destinasi. Karena itu, kualitas penyelenggaraan acara perlu dijaga agar peserta memiliki pengalaman positif dan tertarik kembali. Kalender yang konsisten juga dapat membantu pelaku usaha mempersiapkan layanan ketika jumlah pengunjung meningkat.
Kolaborasi dengan pemerintah kabupaten dan kota menjadi penting karena sebagian kawasan olahraga berada di bawah kewenangan dan pengelolaan yang berbeda. Pemerintah provinsi juga membutuhkan keterlibatan organisasi olahraga, komunitas, pelaku pariwisata, dan sektor swasta. Kerja sama tersebut dapat digunakan untuk menghadirkan kompetisi, memperbaiki fasilitas, melakukan promosi, serta mengembangkan kegiatan komersial yang tetap sesuai fungsi kawasan. Komunitas lokal juga dapat diberikan ruang agar kawasan olahraga tetap aktif di luar agenda besar. Dengan demikian, fasilitas yang telah dibangun tidak menjadi kawasan yang hanya ramai ketika pertandingan berlangsung. Aktivitas rutin masyarakat justru dapat menjadi fondasi agar ekosistem wisata olahraga berkembang secara berkelanjutan.
Rencana menjadikan empat kawasan olahraga sebagai destinasi sport tourism pada akhirnya diharapkan memperluas fungsi investasi fasilitas olahraga di Jawa Barat. Kawasan tersebut tidak hanya menjadi tempat mencetak prestasi atlet, tetapi juga ruang publik, pusat aktivitas komunitas, dan penggerak kunjungan wisata. Tantangannya adalah memastikan fasilitas terawat, akses mudah, agenda tersusun konsisten, serta pelayanan bagi pengunjung memenuhi kebutuhan. Pengembangan juga perlu dilakukan dengan mempertimbangkan karakter masing-masing kawasan agar tidak seluruhnya menawarkan konsep yang sama. Jika dikelola secara terintegrasi, wisata olahraga berpotensi menjadi salah satu segmen baru yang memperkuat industri pariwisata Jawa Barat. Kehadiran empat kawasan tersebut diharapkan sekaligus mendorong masyarakat semakin aktif berolahraga dan memberikan manfaat ekonomi bagi wilayah di sekitarnya.




