Jakarta, 11 Oktober 2026 – Gerakan tutup mulut atau GTM menjadi salah satu tantangan yang sering dihadapi orang tua ketika memberikan makanan kepada anak. Kondisi ini ditandai dengan perilaku menolak makanan, menutup mulut, memalingkan wajah, hingga menangis saat waktu makan tiba. Meskipun dapat menimbulkan kekhawatiran, orang tua disarankan tidak langsung memaksa anak menghabiskan makanan yang telah disiapkan. Pemaksaan justru berisiko membuat anak semakin tidak nyaman dan mengembangkan pengalaman negatif terhadap aktivitas makan. Memahami penyebab GTM serta menerapkan cara menyuapi yang tepat menjadi langkah penting untuk membantu anak membangun kebiasaan makan sehat.
GTM dapat terjadi karena berbagai faktor, mulai dari perubahan selera makan, kondisi kesehatan, hingga ketidaksesuaian tekstur makanan dengan kemampuan anak. Pada masa pertumbuhan, kebutuhan energi dan nafsu makan anak juga dapat mengalami perubahan sehingga jumlah makanan yang dikonsumsi tidak selalu sama setiap hari. Sebagian anak menolak makanan karena merasa kenyang, sedang tumbuh gigi, atau mengalami ketidaknyamanan pada mulut. Ada pula anak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk mengenali rasa dan tekstur makanan baru. Oleh karena itu, orang tua perlu mengamati pola makan serta kondisi anak sebelum menentukan langkah penanganan.
Salah satu cara yang dianjurkan untuk mengurangi GTM adalah menerapkan prinsip pemberian makan responsif atau responsive feeding. Metode ini menekankan pentingnya mengenali tanda lapar dan kenyang yang ditunjukkan anak selama proses makan. Ketika anak membuka mulut, mendekati makanan, atau menunjukkan ketertarikan, orang tua dapat memberikan suapan secara perlahan. Sebaliknya, apabila anak memalingkan wajah, menutup mulut, atau menunjukkan tanda kenyang, pemberian makanan sebaiknya dihentikan sementara. Pendekatan tersebut membantu anak mengenali kebutuhan tubuhnya sekaligus membangun hubungan yang lebih positif dengan makanan.
Orang tua juga perlu memperhatikan posisi anak ketika sedang disuapi agar proses makan berlangsung aman dan nyaman. Anak sebaiknya duduk tegak dengan kepala dan tubuh tersangga sesuai tahap perkembangannya, bukan makan sambil berbaring atau berjalan. Posisi duduk yang stabil membantu anak mengunyah dan menelan makanan dengan lebih baik. Selain itu, ukuran suapan perlu disesuaikan dengan kemampuan anak agar tidak menimbulkan rasa tidak nyaman. Orang tua dianjurkan memberikan jeda antarsuapan dan memastikan makanan sebelumnya telah ditelan sebelum menawarkan suapan berikutnya.
Suasana makan yang menyenangkan menjadi faktor penting dalam membantu anak mengatasi kebiasaan menolak makanan. Orang tua sebaiknya menghindari ancaman, bentakan, atau pemberian hukuman ketika anak tidak bersedia makan. Penggunaan televisi maupun telepon genggam sebagai pengalih perhatian juga sebaiknya dibatasi agar anak dapat belajar mengenali rasa lapar dan kenyang. Sebagai gantinya, orang tua dapat mengajak anak berinteraksi secara sederhana dan memberikan contoh dengan makan bersama keluarga. Kebiasaan tersebut membantu anak memahami bahwa waktu makan merupakan aktivitas yang aman dan menyenangkan.
Selain memperhatikan cara menyuapi, variasi menu dan tekstur makanan juga perlu disesuaikan dengan usia serta kemampuan perkembangan anak. Pada masa pemberian makanan pendamping ASI, tekstur dapat ditingkatkan secara bertahap mengikuti kemampuan mengunyah dan menelan. Makanan dengan warna, bentuk, dan rasa berbeda dapat diperkenalkan untuk membantu anak mengenal beragam jenis bahan pangan. Apabila anak menolak makanan baru, orang tua tidak perlu langsung menganggap bahwa makanan tersebut tidak disukai selamanya. Pengenalan berulang tanpa tekanan dapat membantu meningkatkan penerimaan anak terhadap makanan yang sebelumnya ditolak.
Pengaturan jadwal makan juga berperan dalam membentuk kebiasaan makan yang lebih teratur. Orang tua dapat menyediakan waktu makan utama dan selingan dengan jarak yang sesuai agar anak memiliki kesempatan merasakan lapar secara alami. Pemberian susu atau camilan secara berlebihan menjelang waktu makan utama dapat membuat anak merasa kenyang lebih cepat. Durasi makan juga sebaiknya tidak berlangsung terlalu lama karena dapat menimbulkan kelelahan dan ketegangan bagi anak maupun orang tua. Jika anak sudah menunjukkan tanda kenyang atau tidak lagi tertarik, kegiatan makan dapat diakhiri tanpa paksaan dan dilanjutkan pada jadwal berikutnya.
Meskipun GTM sering menjadi bagian dari perubahan perilaku makan anak, kondisi tertentu tetap membutuhkan perhatian tenaga kesehatan. Orang tua perlu berkonsultasi dengan dokter apabila penolakan makan berlangsung terus-menerus, berat badan tidak bertambah sesuai kurva pertumbuhan, atau anak menunjukkan tanda dehidrasi. Keluhan seperti muntah berulang, nyeri saat menelan, tersedak ketika makan, dan penurunan aktivitas juga perlu diperiksa lebih lanjut. Penanganan yang tepat harus mempertimbangkan usia, kondisi kesehatan, serta kebutuhan gizi masing-masing anak. Dengan menerapkan pemberian makan responsif, menjaga suasana positif, dan memantau pertumbuhan secara berkala, orang tua dapat membantu anak melewati fase GTM tanpa menjadikan waktu makan sebagai pengalaman yang menegangkan.





