Jakarta, 15 Oktober 2026 – Selebgram dan kreator konten Clarissa Putri menjadi perhatian setelah membagikan pengalamannya menghadapi komentar negatif dari sejumlah pengguna media sosial, khususnya kalangan ibu-ibu di Facebook. Di tengah kritik yang diterimanya, Clarissa justru mengaku terkejut ketika mengetahui bahwa aktivitas kontennya di platform tersebut dapat menghasilkan uang. Pengalaman itu menjadi cerita menarik mengenai dinamika kehidupan kreator digital yang tidak selalu mendapatkan respons positif dari warganet. Komentar bernada negatif yang awalnya dianggap mengganggu ternyata hadir bersamaan dengan meningkatnya perhatian terhadap konten yang diunggah. Clarissa pun melihat adanya sisi berbeda dari aktivitas media sosial yang selama ini menjadi bagian dari pekerjaannya.
Clarissa Putri dikenal sebagai kreator konten yang aktif membagikan berbagai kegiatan pribadi melalui platform digital. Kehadirannya di media sosial membuat kehidupan sehari-harinya cukup sering menjadi bahan pembicaraan warganet. Konten mengenai penampilan, keluarga, dan aktivitas keseharian dapat mengundang beragam tanggapan dari pengguna internet. Tidak semua komentar yang diterima bersifat mendukung karena sebagian warganet memberikan penilaian negatif terhadap hal-hal yang ditampilkan. Situasi tersebut memperlihatkan tantangan yang dihadapi figur publik ketika aktivitas pribadinya menjadi konsumsi masyarakat luas.
Perhatian Clarissa terhadap Facebook muncul ketika ia mendapati sejumlah komentar dari pengguna yang memberikan kritik terhadap kontennya. Komentar tersebut disebut banyak berasal dari akun-akun yang dianggap mewakili kalangan ibu-ibu atau sering disebut emak-emak oleh pengguna media sosial. Sebagian tanggapan disampaikan dengan nada yang kurang menyenangkan sehingga menjadi pengalaman tersendiri bagi Clarissa. Meski demikian, aktivitas tersebut juga menunjukkan bahwa kontennya menjangkau pengguna dengan latar belakang dan karakteristik berbeda. Perbedaan pandangan antarpengguna menjadi salah satu hal yang kerap muncul dalam ruang interaksi media sosial.
Di tengah banyaknya komentar yang diterima, Clarissa kemudian mengetahui adanya penghasilan dari aktivitas konten Facebook. Hal tersebut membuatnya terkejut karena sebelumnya perhatian yang muncul di platform itu lebih banyak ia kaitkan dengan komentar negatif. Penghasilan dari platform digital dapat berasal dari program monetisasi yang memberikan imbalan kepada kreator berdasarkan ketentuan tertentu. Besaran pembayaran biasanya dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kelayakan konten, performa tayangan, dan kebijakan monetisasi platform. Namun, jumlah honor yang diterima Clarissa tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan informasi mengenai pengalamannya tersebut.
Pengalaman Clarissa menjadi semakin menarik karena akun Facebook miliknya ternyata sudah dibuat sejak 2016. Setelah membuat akun tersebut, ia mengaku hampir tidak pernah menggunakannya untuk mengunggah konten secara langsung. Clarissa bahkan tidak menyadari bahwa akun Instagram miliknya telah terhubung dengan Facebook. Akibat keterhubungan tersebut, video Reels yang diunggah melalui Instagram secara otomatis ikut muncul di Facebook. Konten yang awalnya tidak terlalu diperhatikannya justru mendapatkan respons cukup besar dari pengguna platform tersebut.
Salah satu unggahan Clarissa tercatat memperoleh sekitar 716.000 tayangan dan 27.300 tanda suka. Video tersebut juga mengumpulkan lebih dari 700 komentar dengan beragam tanggapan dari warganet. Sebagian komentar berisi kritik terhadap bentuk tubuh Clarissa, sedangkan pengguna lainnya memberikan dukungan setelah mengetahui pengalaman tersebut. Banyaknya interaksi membuat unggahan itu menjadi perhatian meskipun tidak seluruh respons yang diterima bersifat positif. Clarissa kemudian membagikan pengalamannya dengan nada bercanda karena tidak menyangka aktivitas tersebut berujung pada pemasukan dari Facebook.
News+ on RCTI+
Sejumlah warganet menanggapi cerita Clarissa dengan memberikan dukungan dan menganggap kejadian tersebut sebagai pengalaman yang tidak biasa. Ada pengguna yang menyarankan agar Clarissa tetap membiarkan akun Instagram dan Facebook miliknya terhubung untuk memperoleh manfaat dari jangkauan konten. Namun, mereka juga menyarankan agar ia tidak terlalu sering membaca komentar negatif demi menjaga kenyamanan pribadi. Tanggapan lainnya menyoroti kenyataan bahwa orang yang memberikan komentar merendahkan justru ikut meningkatkan aktivitas pada unggahan tersebut. Dukungan tersebut memperlihatkan adanya kesadaran sebagian pengguna internet terhadap dampak buruk perundungan digital.
Fenomena yang dialami Clarissa menunjukkan bahwa popularitas konten tidak selalu berasal dari respons positif pengguna media sosial. Dalam ekosistem digital, sebuah unggahan dapat menjangkau banyak orang karena berbagai bentuk interaksi, termasuk komentar yang memicu perdebatan. Meski demikian, tingginya jumlah komentar tidak secara otomatis menjamin sebuah konten memperoleh pembayaran lebih besar. Program monetisasi memiliki ketentuan tersendiri yang menentukan apakah tayangan dan aktivitas konten memenuhi syarat menghasilkan pendapatan. Karena itu, pengalaman Clarissa lebih tepat dipahami sebagai peristiwa ketika konten yang ramai diperbincangkan ternyata juga menghasilkan penghasilan bagi kreatornya.
Cerita Clarissa Putri menjadi pengingat mengenai dua sisi kehidupan kreator konten di media sosial. Di satu sisi, platform digital membuka peluang ekonomi melalui distribusi konten dan program monetisasi. Di sisi lain, komentar yang merendahkan penampilan fisik tetap merupakan bentuk perundungan yang dapat memberikan dampak negatif bagi penerimanya. Sikap Clarissa yang menanggapi pengalaman tersebut dengan humor tidak berarti bahwa perilaku menghina orang lain dapat dibenarkan. Pengalamannya sekaligus memperlihatkan pentingnya membangun ruang digital yang lebih sehat, menghargai perbedaan, dan memberikan kesempatan bagi kreator untuk berkarya tanpa harus menghadapi serangan pribadi.




