Palangka Raya, 3 September 2026 – Penyanyi dan aktris Sherina Munaf mengungkapkan pengalaman berat ketika turun langsung membantu proses pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah. Setelah berada di tengah lokasi kebakaran dan mencoba memadamkan bara yang masih tersimpan di bawah lapisan gambut, Sherina mengaku baru memahami betapa sulitnya pekerjaan petugas dan relawan yang selama berhari-hari berjuang mengendalikan api. Kondisi lahan gambut membuat kebakaran tidak selalu benar-benar berakhir meskipun api di permukaan sudah tidak terlihat karena bara dapat bertahan di bawah tanah dan kembali menyala. Sherina bahkan menggambarkan situasi tersebut dapat membuat orang di lapangan merasa hampir putus asa karena titik yang sudah ditangani bisa kembali mengeluarkan asap dan panas. Meski menghadapi kondisi melelahkan, ia melihat para petugas, mahasiswa, dan relawan terus bekerja untuk mencegah kebakaran meluas. Pengalaman tersebut membuat Sherina semakin memahami besarnya tantangan penanganan karhutla yang selama ini dihadapi masyarakat Kalimantan Tengah. Ia juga menilai kerja panjang para personel di lapangan membutuhkan dukungan yang lebih luas agar proses pemadaman dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Keterlibatan Sherina dalam penanganan karhutla dilakukan bersama sejumlah pihak, termasuk Borneo Orangutan Survival Foundation, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah, Dinas Kehutanan, petugas pemadam kebakaran, KPHP Kahayan Tengah, relawan, serta mahasiswa Universitas Palangka Raya. Salah satu lokasi yang didatanginya adalah Taman Wisata Alam Galeget Tiawu yang masih menyimpan banyak bara setelah sebelumnya mengalami kebakaran. Tim BKSDA Kalimantan Tengah diketahui telah melakukan pemadaman selama delapan hari dan api sempat dinyatakan padam selama sekitar dua hari. Namun, bara kemudian kembali muncul sehingga petugas harus mengulangi pembasahan untuk mencegah api membesar. Sherina ikut membawa selang dan membantu menyemprotkan air ke sejumlah titik yang masih mengeluarkan panas serta asap. Hanya dalam waktu sekitar satu jam, ia merasakan besarnya energi yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan tersebut di tengah asap dan medan yang tidak mudah. Kondisi itu membuatnya memberikan apresiasi kepada para petugas yang bahkan harus bekerja berjam-jam hingga menginap di lapangan.

Tantangan pemadaman semakin berat karena karakteristik lahan gambut berbeda dengan kebakaran pada permukaan tanah biasa. Lapisan gambut mengandung material organik yang dapat terbakar hingga ke bagian dalam sehingga api terkadang tidak terlihat dari permukaan. Ketika bagian atas sudah dibasahi, panas dan bara masih dapat tersimpan beberapa sentimeter hingga jauh lebih dalam dan kembali muncul apabila kondisi mengering atau terkena aliran udara. Karena itulah petugas harus melakukan pembasahan berulang dan memastikan air mencapai lapisan yang masih panas. Sherina melihat langsung bagaimana titik yang tampak sudah aman ternyata masih mengeluarkan asap ketika diperiksa lebih dekat. Batang-batang kayu yang berada di atas gambut juga menjadi sangat panas sehingga setiap langkah harus dilakukan dengan hati-hati. Dalam kondisi seperti itu, pemadaman membutuhkan kesabaran karena petugas tidak cukup hanya menghilangkan kobaran api yang terlihat. Seluruh area harus terus diperiksa untuk memastikan tidak terdapat bara aktif yang berpotensi memicu kebakaran baru.

Sherina juga mendatangi kawasan sekitar Universitas Palangka Raya yang mengalami kebakaran dan melihat mahasiswa ikut terlibat dalam upaya pemadaman. Area hutan yang terbakar berada sekitar 200 meter dari gedung Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam sehingga mahasiswa bersama relawan berusaha mencegah api bergerak semakin dekat dengan fasilitas kampus. Mereka bekerja hingga malam hari dengan membawa berbagai peralatan untuk membasahi lahan dan menangani titik-titik yang masih aktif. Sherina turut membantu pekerjaan tersebut dan merasakan medan yang menurutnya lebih menantang karena banyak batang kayu berada di atas lapisan gambut yang sangat panas. Sebelum bergerak lebih jauh, area yang akan diinjak harus terlebih dahulu didinginkan untuk mengurangi risiko terkena panas maupun bara. Aktivitas pemadaman juga dilakukan di tengah asap yang membuat jarak pandang terbatas dan pernapasan menjadi tidak nyaman. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya membutuhkan tenaga, tetapi juga kehati-hatian agar orang yang melakukan pemadaman tidak menjadi korban.

Pengalaman Sherina menghadapi dampak karhutla sebenarnya sudah dimulai sebelum dirinya menginjakkan kaki di Palangka Raya. Dalam perjalanan menggunakan pesawat dari Jakarta, penerbangannya sempat mengalami keterlambatan karena asap tebal menyebabkan gangguan jarak pandang di sekitar lokasi tujuan. Ketika pesawat mulai melakukan proses penurunan untuk mendarat, pemandangan di luar kabin terlihat semakin keruh dan daratan baru dapat terlihat ketika pesawat berada pada ketinggian yang lebih rendah. Bau asap bahkan disebut dapat tercium sampai ke dalam kabin sehingga Sherina memutuskan menggunakan masker setelah tenggorokannya mulai terasa tidak nyaman. Pengalaman tersebut memberikan gambaran awal mengenai luasnya dampak karhutla yang tidak hanya dirasakan masyarakat di sekitar titik api. Kabut asap dapat memengaruhi transportasi udara, aktivitas masyarakat, kualitas lingkungan, dan kesehatan warga dalam wilayah yang cukup luas. Setelah berada langsung di darat, kondisi yang dilihatnya semakin memperjelas beratnya persoalan yang sedang dihadapi masyarakat dan petugas.

Dalam proses pemadaman di sekitar Universitas Palangka Raya, Sherina juga mendapatkan penjelasan mengenai penggunaan bahan khusus yang dikembangkan untuk membantu proses pembasahan lahan. Bahan berbentuk sabun tersebut dicampurkan dengan air sebelum disemprotkan ke kawasan yang terbakar untuk membantu proses rewetting atau pembasahan kembali gambut. Metode itu digunakan agar air dapat bekerja lebih efektif ketika berhadapan dengan karakter tanah gambut yang telah mengalami kekeringan dan menyimpan panas. Pembasahan kembali merupakan tahapan penting karena sekadar memadamkan api di permukaan belum cukup untuk memastikan kawasan benar-benar aman. Petugas perlu terus memeriksa suhu tanah dan keberadaan asap yang menjadi indikasi masih adanya bara di bawah permukaan. Inovasi yang dikembangkan di tingkat lokal tersebut menjadi salah satu alat pendukung bagi tim yang bekerja menghadapi kebakaran. Sherina menilai pengetahuan semacam itu menunjukkan pentingnya kolaborasi antara akademisi, masyarakat, relawan, dan petugas dalam mencari metode yang lebih efektif untuk menangani karhutla.

Selain kawasan kampus, perhatian Sherina juga tertuju pada ancaman kebakaran terhadap habitat satwa liar, khususnya orangutan yang berada di kawasan konservasi Kalimantan Tengah. Ia mengunjungi fasilitas rehabilitasi orangutan Nyaru Menteng yang dikelola BOS Foundation untuk melihat kondisi kawasan dan langkah pencegahan yang dilakukan menghadapi kebakaran. Sekitar 200 orangutan berada dalam lingkungan rehabilitasi tersebut dan membutuhkan perlindungan dari dampak api maupun asap. Kebakaran tidak hanya berpotensi mengancam keselamatan satwa secara langsung, tetapi juga dapat merusak habitat dan sumber pakan yang diperlukan ketika orangutan nantinya kembali dilepas ke alam. Karena itu, pengendalian titik api di sekitar kawasan konservasi menjadi bagian penting dari upaya perlindungan jangka panjang. Sherina juga melihat keberadaan sumur bor yang disiapkan sebagai salah satu langkah pencegahan dan sumber air ketika kebakaran terjadi. Pengalaman tersebut memperlihatkan hubungan erat antara penanganan karhutla dan perlindungan ekosistem yang menjadi tempat hidup berbagai satwa Kalimantan.

Kondisi di lapangan juga membuat Sherina menyoroti dampak asap terhadap masyarakat yang harus menghadapinya setiap hari. Menurut pengalamannya, api yang relatif kecil saja dapat menghasilkan asap cukup pekat sehingga dampaknya terhadap warga akan semakin berat apabila kebakaran terjadi di banyak titik secara bersamaan. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan terdampak tidak dapat dengan mudah meninggalkan lingkungan mereka setiap kali kualitas udara memburuk. Anak-anak, warga lanjut usia, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu menjadi kelompok yang membutuhkan perhatian lebih besar ketika paparan asap berlangsung dalam waktu panjang. Karhutla juga dapat memengaruhi aktivitas sekolah, pekerjaan, perjalanan, serta kehidupan ekonomi masyarakat. Situasi tersebut membuat pemadaman bukan hanya persoalan menjaga hutan, tetapi juga bagian dari perlindungan kesehatan dan keselamatan masyarakat. Sherina berharap perhatian terhadap kondisi di Kalimantan tidak berhenti ketika kobaran api mulai berkurang karena dampak lingkungan masih membutuhkan pemulihan dalam waktu panjang.

Data pemantauan hingga awal September menunjukkan peningkatan jumlah titik panas di sejumlah wilayah Kalimantan, termasuk Kalimantan Tengah. Kondisi cuaca kering membuat vegetasi dan lahan gambut menjadi lebih mudah terbakar, sementara angin dapat mempercepat penyebaran api ke kawasan lainnya. Petugas karena itu harus terus melakukan patroli meskipun sejumlah lokasi sebelumnya telah berhasil dipadamkan. Titik yang masih mengeluarkan asap perlu segera ditangani sebelum berkembang kembali menjadi kobaran yang lebih besar. Pencegahan juga menjadi sangat penting karena pemadaman kebakaran gambut membutuhkan tenaga, waktu, air, dan sumber daya yang jauh lebih besar setelah api telanjur menyebar. Pengawasan kawasan rawan perlu berjalan bersamaan dengan edukasi kepada masyarakat agar aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran dapat dihindari. Kolaborasi berbagai unsur menjadi kunci karena luas wilayah yang harus dipantau tidak memungkinkan penanganan hanya mengandalkan satu institusi.

Selain ikut melakukan pemadaman, Sherina bersama gerakan Pawerful Voices turut membantu menggalang donasi untuk mendukung kebutuhan petugas dan relawan di lapangan. Bantuan diarahkan untuk mendukung logistik dan berbagai kebutuhan yang diperlukan selama proses penanganan karhutla. Dukungan semacam itu menjadi penting karena sebagian relawan bekerja dalam waktu panjang dan harus berada dekat dengan titik kebakaran. Mereka membutuhkan perlengkapan pelindung, makanan, minuman, obat-obatan, serta peralatan yang memadai agar dapat bekerja dengan lebih aman. Sherina menilai perjuangan orang-orang di lapangan tidak boleh dianggap sederhana karena mereka menghadapi panas, asap, kelelahan, dan risiko keselamatan dalam waktu bersamaan. Keterlibatannya secara langsung membuat ia dapat melihat kebutuhan tersebut dari dekat, bukan hanya berdasarkan informasi yang beredar mengenai kebakaran. Dukungan publik diharapkan dapat membantu mempertahankan kemampuan tim selama kondisi kebakaran belum sepenuhnya terkendali.

Pengalaman memadamkan karhutla di Kalimantan Tengah akhirnya membuat Sherina memahami mengapa para petugas dapat merasa hampir putus asa ketika menghadapi kebakaran gambut yang terus muncul kembali. Api yang terlihat kecil di permukaan dapat menyimpan bara di bawah tanah, sementara satu titik yang telah ditangani masih harus dipantau agar tidak kembali menyala. Meski demikian, Sherina melihat para petugas, mahasiswa, relawan, dan masyarakat tetap bertahan serta melanjutkan pemadaman meskipun menghadapi kelelahan yang besar. Ia menekankan bahwa pekerjaan tidak selesai ketika api berhasil dipadamkan karena kawasan yang rusak masih membutuhkan proses pemulihan ekosistem. Pembasahan gambut, pengawasan titik panas, rehabilitasi hutan, perlindungan satwa, dan pencegahan kebakaran berikutnya menjadi rangkaian pekerjaan yang harus dilakukan secara berkelanjutan. Pengalaman tersebut juga memperlihatkan bahwa dampak karhutla menjangkau banyak aspek, mulai dari kesehatan masyarakat dan transportasi hingga kelestarian hutan serta kehidupan satwa liar. Di tengah perjuangan mengendalikan kebakaran, kerja bersama antara pemerintah, petugas, masyarakat, akademisi, organisasi konservasi, dan relawan menjadi bagian penting untuk mencegah kerusakan yang lebih luas.