Lebak, 29 Juli 2026 – Fenomena bekas perkampungan yang selama beberapa tahun terendam di kawasan Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten, kembali menarik perhatian setelah sisa bangunannya terlihat akibat penurunan muka air pada musim kemarau. Tembok-tembok rumah yang sudah tidak beratap muncul di sejumlah bagian kawasan genangan, menghadirkan kembali jejak permukiman yang dahulu dihuni masyarakat sebelum pembangunan bendungan. Kawasan tersebut berada di bagian hulu Bendungan Karian, termasuk wilayah Desa Sukarame dan Desa Sukajaya, Kecamatan Sajira. Kemunculan kembali bekas kampung membuat sejumlah mantan penghuni datang untuk melihat lokasi tempat mereka pernah tinggal. Bagi warga, pemandangan tersebut bukan sekadar fenomena akibat air surut, tetapi juga membawa kembali berbagai kenangan sebelum mereka direlokasi.
Salah satu fakta menarik adalah bangunan rumah di area genangan ternyata tidak seluruhnya dihancurkan ketika pembangunan Bendungan Karian berlangsung. Setelah pembebasan lahan dan relokasi penduduk dilakukan, pekerjaan pembersihan lebih banyak dilakukan terhadap vegetasi yang berada di kawasan tersebut. Struktur sejumlah rumah kemudian tetap berada di lokasi ketika proses pengisian air bendungan dilakukan. Saat muka air berada pada kondisi normal, sebagian besar struktur itu tertutup genangan sehingga tidak terlihat dari permukaan. Ketika air menyusut pada kemarau 2026, dinding dan puing bangunan lama kembali tampak dengan jelas.
Penurunan muka air Bendungan Karian tercatat sekitar 80 sentimeter dari kondisi normal atau sekitar lima persen dari kapasitas genangan. Perubahan tersebut cukup untuk membuat bagian permukiman lama yang berada di ujung kawasan genangan kembali terlihat. Pada kondisi muka air lebih tinggi, bangunan-bangunan tersebut berada di bawah air dan hanya bagian tertentu yang mungkin terlihat. Fenomena pada kemarau kali ini menjadi perhatian karena bekas kampung tersebut disebut baru kembali terlihat secara jelas sejak kawasan digenangi. Kondisi tersebut sekaligus memperlihatkan perubahan muka air waduk yang terjadi mengikuti musim dan pasokan air.
Sedikitnya tiga kampung yang terdampak genangan Bendungan Karian menjadi bagian dari kawasan yang jejaknya kembali terlihat ketika air menyusut. Pembangunan bendungan sebelumnya membuat warga harus meninggalkan permukiman dan berpindah ke lokasi baru melalui proses relokasi. Tidak hanya rumah penduduk, sejumlah fasilitas umum juga terdampak sehingga harus dipindahkan. Puluhan fasilitas seperti sekolah, masjid, madrasah, majelis, musala, kantor desa, polindes, dan posyandu termasuk dalam bangunan yang direlokasi. Perubahan tersebut membuat kawasan yang dahulu dipenuhi aktivitas masyarakat kemudian menjadi bagian dari area genangan bendungan.
Bagi mantan warga, kemunculan kembali kampung lama menghadirkan suasana nostalgia yang kuat. Lokasi yang kini terlihat sebagai kumpulan tembok dan puing pernah menjadi tempat masyarakat menjalankan kehidupan sehari-hari, bertetangga, beribadah, dan membesarkan keluarga. Sejumlah warga datang kembali untuk melihat bekas rumah maupun titik yang mereka kenali sebelum kawasan digenangi. Perubahan lanskap membuat sebagian tempat terlihat sangat berbeda, tetapi struktur bangunan yang tersisa masih menjadi penanda keberadaan permukiman lama. Fenomena tersebut akhirnya turut menarik masyarakat lain yang penasaran melihat kampung yang selama ini berada di bawah air.
Meski kemunculan bekas kampung dipicu penurunan muka air, kondisi Bendungan Karian disebut masih aman untuk menjalankan fungsi utamanya. Tampungan air masih dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan air baku serta mendukung suplai irigasi. Apabila wilayah hilir membutuhkan tambahan pasokan, air dari Bendungan Karian masih dapat dialirkan sesuai kebutuhan dan pengelolaan yang berlaku. Artinya, terlihatnya bangunan lama tidak serta-merta menunjukkan bendungan mengalami kondisi kritis. Pemantauan tetap penting selama musim kemarau untuk memastikan ketersediaan air terjaga apabila periode kering berlangsung lebih lama.
Bendungan Karian memiliki posisi strategis dalam pengelolaan sumber daya air di wilayah Banten dan sekitarnya. Bendungan berkapasitas ratusan juta meter kubik tersebut dirancang untuk mendukung penyediaan air baku, irigasi, serta pengendalian banjir. Manfaatnya menjangkau sejumlah wilayah, sementara pembangunannya mengubah bentang alam dan kehidupan masyarakat yang sebelumnya tinggal di kawasan genangan. Kemunculan kembali sisa kampung menjadi gambaran nyata mengenai perubahan besar tersebut. Di satu sisi terdapat infrastruktur yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan jutaan masyarakat, sementara di sisi lain terdapat sejarah permukiman yang kini tersimpan di dasar waduk.
Fenomena kampung tenggelam yang kembali muncul di Lebak akibat kemarau pada akhirnya menjadi pertemuan antara perubahan alam, pembangunan infrastruktur, dan ingatan masyarakat. Turunnya muka air sekitar 80 sentimeter membuat sisa rumah dan kawasan permukiman yang telah lama terendam kembali terlihat, sekaligus menarik mantan warga untuk bernostalgia. Meski demikian, kondisi tampungan Bendungan Karian masih dinilai mencukupi untuk menjalankan fungsi penyediaan air dan irigasi. Masyarakat yang datang melihat kawasan tersebut juga perlu memperhatikan keamanan karena area dasar waduk dapat memiliki permukaan tanah yang tidak stabil. Ketika musim berganti dan muka air kembali meningkat, jejak kampung lama itu kemungkinan kembali menghilang di bawah genangan Bendungan Karian.






