Jakarta, 2 November 2026 – Anggapan bahwa penderita osteoporosis atau tulang keropos tidak diperbolehkan berolahraga ternyata tidak sepenuhnya benar. Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi dan Traumatologi Subspesialis Cedera Olahraga Siloam Hospitals Mampang, dr. Henry Suhendra, Sp.OT, Subsp.CO(K), menjelaskan bahwa aktivitas fisik justru memiliki peran penting dalam mempertahankan kesehatan dan kekuatan tulang. Menurutnya, penderita osteoporosis tetap dapat melakukan olahraga selama jenis latihan dan intensitasnya disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing. Penjelasan tersebut disampaikan dalam kegiatan Timeless Music, Timeless Movement yang diselenggarakan Siloam Hospitals Mampang di Fountain Atrium Grand Indonesia, Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2026. Henry menyoroti masih banyak masyarakat yang menghindari olahraga karena khawatir tulang yang mengalami pengeroposan akan semakin mudah patah. Padahal, kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan kekuatan otot menurun dan meningkatkan risiko terjatuh, terutama pada kelompok lanjut usia. Oleh karena itu, olahraga yang dilakukan secara tepat justru menjadi bagian penting dalam menjaga kemampuan bergerak serta mengurangi risiko komplikasi osteoporosis. iNews.ID
Osteoporosis merupakan kondisi ketika kepadatan dan kualitas jaringan tulang mengalami penurunan sehingga tulang menjadi lebih rapuh dan mudah mengalami patah. Penyakit ini sering berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan keluhan yang jelas pada tahap awal. Banyak penderita baru mengetahui kondisi tersebut setelah mengalami patah tulang akibat benturan ringan atau terjatuh ketika melakukan aktivitas sehari-hari. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa osteoporosis dapat terjadi karena kemampuan tubuh membentuk jaringan tulang baru tidak mampu mengimbangi proses penguraian jaringan tulang lama. Risiko penyakit tersebut meningkat seiring bertambahnya usia, terutama pada perempuan setelah menopause akibat perubahan kadar hormon estrogen. Selain faktor usia dan hormonal, kurangnya asupan kalsium, kekurangan vitamin D, kebiasaan merokok, serta gaya hidup tidak aktif juga dapat meningkatkan risiko pengeroposan tulang. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena patah tulang pada bagian pinggul maupun tulang belakang dapat mengganggu mobilitas dan menurunkan kualitas hidup penderitanya. Dengan memahami faktor risiko tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga menerapkan kebiasaan yang mendukung kesehatan tulang sejak dini. Keslan
Henry menjelaskan bahwa salah satu prinsip penting dalam menjaga kekuatan tulang adalah memberikan rangsangan mekanis melalui aktivitas fisik. Ketika tubuh melakukan gerakan yang melibatkan tekanan atau beban, jaringan tulang akan menerima rangsangan untuk mempertahankan kekuatannya. Karena alasan tersebut, latihan beban menjadi salah satu bentuk olahraga yang dianjurkan bagi penderita osteoporosis sesuai tingkat risiko dan kemampuan fisiknya. Latihan tersebut tidak selalu berarti mengangkat beban berat seperti yang dilakukan atlet di pusat kebugaran. Penggunaan beban ringan, pita elastis, maupun berat badan sendiri dapat menjadi pilihan untuk melatih otot sekaligus memberikan rangsangan pada tulang. Namun, pelaksanaannya harus dilakukan secara bertahap dengan teknik yang benar agar tidak menimbulkan cedera. Dokter atau fisioterapis dapat membantu menentukan gerakan yang sesuai berdasarkan tingkat kepadatan tulang, riwayat patah tulang, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan. Dengan pendekatan yang tepat, latihan kekuatan dapat membantu mempertahankan fungsi tubuh tanpa memberikan tekanan berlebihan pada bagian tulang yang rentan. iNews.ID+1
Selain latihan kekuatan, penderita osteoporosis dapat memperoleh manfaat dari olahraga yang melibatkan aktivitas menahan berat badan atau weight-bearing exercise. Bentuk aktivitas tersebut mencakup berjalan kaki, berjalan cepat sesuai kemampuan, senam aerobik berdampak rendah, dan aktivitas lain yang dilakukan dalam posisi tubuh menopang berat badan. Gerakan tersebut membantu memberikan rangsangan pada tulang kaki, pinggul, dan tulang belakang sekaligus meningkatkan kesehatan jantung serta kebugaran tubuh. Bagi penderita yang baru mulai berolahraga, berjalan kaki dalam durasi singkat dapat menjadi pilihan awal sebelum meningkatkan waktu dan intensitas latihan secara bertahap. Latihan keseimbangan juga penting karena osteoporosis meningkatkan konsekuensi serius apabila seseorang mengalami jatuh. Gerakan seperti berdiri dengan satu kaki sambil berpegangan pada penyangga yang kokoh atau latihan tai chi yang telah disesuaikan dapat membantu memperbaiki koordinasi tubuh. Sementara itu, berenang dan bersepeda tetap bermanfaat bagi kebugaran jantung serta kekuatan otot, meskipun keduanya tidak memberikan rangsangan menahan berat badan sebesar aktivitas berjalan. Kombinasi beberapa jenis latihan tersebut dapat membantu penderita mempertahankan mobilitas dan kemandirian dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Mayo Clinic+1
Meski olahraga dianjurkan, tidak semua jenis aktivitas fisik aman dilakukan oleh penderita osteoporosis, terutama mereka yang mengalami pengeroposan tulang berat atau memiliki riwayat patah tulang. Aktivitas dengan benturan tinggi, gerakan melompat berulang, serta olahraga yang memiliki risiko jatuh atau benturan keras mungkin perlu dibatasi berdasarkan hasil pemeriksaan dokter. Gerakan membungkukkan tulang belakang secara berlebihan dan memutar pinggang dengan kuat juga perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko cedera pada tulang belakang yang rapuh. Beberapa latihan seperti sit-up konvensional, menyentuh ujung kaki dengan membungkuk dalam, atau gerakan memutar tubuh secara mendadak mungkin tidak sesuai bagi penderita tertentu. Namun, pembatasan tersebut tidak berarti semua penderita osteoporosis harus menghindari setiap aktivitas yang menimbulkan benturan. Tingkat risiko setiap orang berbeda sehingga keputusan mengenai jenis latihan perlu mempertimbangkan usia, kekuatan otot, keseimbangan, serta riwayat kesehatan. Penderita yang pernah mengalami patah tulang belakang atau sedang menjalani pemulihan patah tulang sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai program latihan baru. Prinsip utamanya adalah menjaga tubuh tetap aktif dengan memilih gerakan yang memberikan manfaat tanpa meningkatkan risiko cedera secara tidak perlu. Mayo Clinic+1
Pemeriksaan kesehatan menjadi langkah penting sebelum penderita osteoporosis menjalankan program olahraga secara rutin, khususnya apabila kondisi pengeroposan tulangnya sudah cukup berat. Dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan kepadatan mineral tulang untuk menilai tingkat osteoporosis dan membantu menentukan risiko patah tulang. Selain itu, penilaian kekuatan otot, kemampuan berjalan, keseimbangan, dan riwayat jatuh dapat memberikan gambaran mengenai aktivitas yang paling sesuai. Penderita juga perlu memperhatikan kondisi tubuh selama berolahraga dan tidak memaksakan diri apabila muncul nyeri yang tidak biasa, pusing, atau keluhan lain yang mengganggu. Apabila timbul nyeri punggung mendadak yang berat, terutama setelah gerakan ringan atau terjatuh, pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan tidak terjadi patah tulang. Olahraga juga perlu didukung pemenuhan kebutuhan nutrisi, terutama kalsium dan vitamin D, yang berperan dalam mempertahankan kesehatan jaringan tulang. Bagi penderita dengan risiko patah tulang tinggi, dokter dapat memberikan terapi obat untuk membantu mengurangi pengeroposan atau meningkatkan pembentukan tulang sesuai indikasi medis. Dengan demikian, aktivitas fisik merupakan bagian dari penanganan osteoporosis yang perlu berjalan bersama pengobatan dan pemantauan kesehatan secara menyeluruh. AAOS+2
Penjelasan dokter mengenai pentingnya olahraga bagi penderita osteoporosis sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan tulang tidak cukup dilakukan dengan menghindari aktivitas yang dianggap berisiko. Tubuh tetap membutuhkan gerakan untuk mempertahankan kekuatan otot, koordinasi, keseimbangan, serta kemampuan melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri. Menghentikan seluruh aktivitas fisik tanpa alasan medis justru dapat mempercepat penurunan kebugaran dan membuat seseorang semakin rentan mengalami jatuh. Karena itu, penderita osteoporosis dianjurkan membangun kebiasaan bergerak secara konsisten dengan memilih latihan yang sesuai kemampuan dan tingkat risiko masing-masing. Dukungan keluarga juga memiliki peran penting, terutama bagi penderita lanjut usia yang membutuhkan pendampingan ketika memulai latihan atau menjalani aktivitas di luar rumah. Lingkungan tempat tinggal sebaiknya dibuat aman dengan memastikan pencahayaan memadai, lantai tidak licin, dan jalur berjalan bebas dari benda yang dapat menyebabkan tersandung. Konsultasi dengan dokter maupun fisioterapis dapat membantu penderita menyusun program olahraga yang aman sekaligus memberikan manfaat dalam jangka panjang. Dengan pemahaman yang tepat, osteoporosis bukan alasan untuk berhenti bergerak, melainkan kondisi yang membutuhkan penyesuaian aktivitas agar kesehatan tulang dan kualitas hidup tetap terjaga. Mayo Clinic+1




