Jakarta, 29 September 2026 –
Fenomena office ageing tengah ramai diperbincangkan di kalangan pekerja muda China. Istilah tersebut digunakan warganet untuk menggambarkan kekhawatiran bahwa rutinitas bekerja berjam-jam di kantor membuat wajah terlihat lebih kusam, lelah, dan lebih tua. Sejumlah pekerja bahkan melakukan perlindungan yang tidak biasa, mulai dari mengoleskan sunscreen, memakai topi dan masker pelindung wajah, hingga memasang payung di atas meja kerja. Tren tersebut banyak dibagikan melalui platform media sosial seperti Xiaohongshu atau RedNote dan Douyin.
Perbincangan semakin ramai setelah seorang pengguna RedNote dari Provinsi Jiangsu menceritakan perubahan yang dirasakannya setelah sekitar satu bulan bekerja. Ia mengaku warna kulitnya terlihat lebih gelap dan matanya lebih sering terasa lelah. Pengguna lain kemudian membagikan pengalaman serupa, termasuk seseorang yang merasa kulitnya terlihat lebih cerah setelah mengambil cuti. Keluhan mengenai udara kantor dan paparan asap rokok di ruang kerja bersama juga muncul dalam diskusi tersebut.
Kekhawatiran itu kemudian melahirkan berbagai cara unik untuk melindungi diri selama bekerja. Sebagian pekerja mengoleskan sunscreen pada wajah dan lengan, menggunakan penutup wajah, serta membuka payung di dekat meja untuk menghalangi cahaya. Ada pula yang memanfaatkan gelas bekas minuman sebagai pelembap udara sederhana karena merasa udara dari pendingin ruangan terlalu kering. Benda seperti batu hingga biji mangga bahkan dijadikan semacam “teman meja” untuk membantu meredakan tekanan selama bekerja.
Meski viral, office ageing bukan istilah medis atau diagnosis resmi. Bukti ilmiah juga belum menunjukkan bahwa pencahayaan kantor biasa atau penggunaan komputer secara langsung membuat kulit mengalami penuaan dini seperti paparan ultraviolet dari matahari. Sejumlah kajian menemukan paparan ultraviolet dari perangkat elektronik seperti monitor tidak terdeteksi, sementara radiasi ultraviolet dari lampu fluoresen biasa berada pada tingkat sangat rendah. Perlindungan terhadap sinar matahari tetap relevan terutama bagi pekerja yang duduk dekat jendela karena UVA dapat menembus kaca.
Keluhan pekerja sebenarnya dapat berkaitan dengan gabungan berbagai kondisi di lingkungan kantor. Udara kering, ventilasi kurang baik, debu, stres, kurang tidur, terlalu lama duduk, serta waktu menatap layar yang panjang dapat menyebabkan ketidaknyamanan fisik. Beberapa gejalanya memiliki kemiripan dengan konsep sick building syndrome, yang dapat mencakup sakit kepala, kulit kering, iritasi tenggorokan, kelelahan, dan kesulitan berkonsentrasi ketika berada di dalam bangunan tertentu. Karena itu, munculnya keluhan tidak serta-merta berarti seseorang benar-benar mengalami percepatan penuaan biologis.
Fenomena ini juga dipandang sebagai cerminan kegelisahan terhadap tekanan dunia kerja. Data yang dikutip dalam laporan mengenai tren tersebut menunjukkan rata-rata waktu kerja mingguan di China pada Mei mencapai sekitar 48,2 jam, lebih tinggi dibandingkan batas 44 jam yang disebut dalam aturan ketenagakerjaan setempat. Di media sosial, pekerja turut mengaitkan wajah lelah, postur tubuh membungkuk, serta garis pada wajah dengan rutinitas pekerjaan mereka. Dengan demikian, istilah office ageing berkembang tidak hanya sebagai persoalan kecantikan, tetapi juga sebagai cara pekerja mengekspresikan kelelahan dan ketidakpuasan terhadap lingkungan kerja.
Alih-alih langsung mengikuti langkah ekstrem seperti membuka payung di depan komputer, pekerja dapat lebih memperhatikan faktor yang memang memengaruhi kenyamanan dan kesehatan selama berada di kantor. Menjaga hidrasi, beristirahat secara berkala, memperbaiki posisi duduk, menjaga kualitas tidur, mengurangi stres, dan memastikan ventilasi ruangan memadai dapat menjadi langkah yang lebih relevan. Sunscreen tetap bermanfaat ketika terdapat paparan ultraviolet, terutama dari sinar matahari yang masuk melalui jendela. Fenomena office ageing pada akhirnya lebih tepat dipahami sebagai tren sosial yang menggambarkan kekhawatiran pekerja terhadap dampak lingkungan dan rutinitas kerja, bukan sebagai penyakit atau kondisi medis yang telah terbukti secara ilmiah.




