Jakarta, 26 Mei 2026 – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini masih jauh lebih terkendali dibanding kondisi krisis ekonomi yang terjadi sekitar dua dekade lalu. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah perhatian publik terhadap pergerakan rupiah yang sempat menyentuh level mendekati Rp17.800 per dolar AS dalam beberapa hari terakhir. Menurut Airlangga, kondisi ekonomi nasional saat ini memiliki fondasi yang jauh lebih kuat dibanding masa krisis akhir 1990-an ketika nilai tukar rupiah mengalami tekanan ekstrem disertai gejolak sektor perbankan dan ekonomi domestik. Pemerintah menilai pelemahan rupiah kali ini lebih banyak dipengaruhi faktor global, termasuk penguatan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik internasional. Meski demikian, pemerintah memastikan terus memantau perkembangan pasar keuangan guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Airlangga menjelaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang relatif stabil dengan dukungan pertumbuhan ekonomi, cadangan devisa yang memadai, serta sistem perbankan yang dinilai lebih sehat dibanding masa lalu. Selain itu, koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia disebut terus diperkuat untuk mengantisipasi volatilitas pasar yang dapat memengaruhi stabilitas nilai tukar. Ia juga menilai struktur ekonomi Indonesia kini lebih siap menghadapi tekanan eksternal karena reformasi sektor keuangan dan penguatan regulasi telah dilakukan selama bertahun-tahun pascakrisis. Pemerintah optimistis kondisi saat ini masih dapat dikelola secara baik meski tekanan global belum sepenuhnya mereda. Oleh sebab itu, masyarakat diminta tidak panik menghadapi fluktuasi nilai tukar yang terjadi di pasar keuangan internasional.
Penguatan dolar AS secara global memang menjadi faktor utama yang menekan mata uang banyak negara berkembang, termasuk rupiah. Ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset berbasis dolar yang dianggap lebih aman. Kondisi tersebut memicu tekanan terhadap pasar keuangan di berbagai negara Asia dalam beberapa waktu terakhir. Namun pengamat ekonomi menilai Indonesia masih memiliki daya tahan yang cukup baik karena ditopang konsumsi domestik dan pertumbuhan investasi yang relatif stabil. Dibanding periode krisis dua dekade lalu, sistem pengawasan perbankan dan kebijakan fiskal saat ini dinilai jauh lebih siap menghadapi tekanan eksternal.
Meski pelemahan rupiah masih dianggap terkendali, sejumlah sektor ekonomi tetap diminta waspada terhadap dampak kenaikan kurs dolar, terutama industri yang bergantung pada impor bahan baku dan pembayaran luar negeri. Kenaikan nilai dolar dapat meningkatkan biaya produksi dan memengaruhi harga sejumlah barang di pasar domestik apabila berlangsung dalam jangka panjang. Namun di sisi lain, pelemahan rupiah juga memberikan keuntungan bagi sektor ekspor karena pendapatan dalam dolar menjadi lebih tinggi saat dikonversi ke mata uang lokal. Pemerintah disebut terus menjaga keseimbangan kebijakan agar dampak pelemahan nilai tukar tidak menimbulkan tekanan besar terhadap daya beli masyarakat maupun stabilitas ekonomi secara keseluruhan. Langkah stabilisasi pasar dan penguatan kepercayaan investor juga terus dilakukan untuk menjaga kondisi ekonomi tetap kondusif.
Airlangga menegaskan bahwa pemerintah akan terus memperkuat koordinasi kebijakan ekonomi guna menghadapi dinamika global yang masih penuh ketidakpastian. Pemerintah dan Bank Indonesia diyakini memiliki pengalaman serta instrumen kebijakan yang lebih matang dibanding masa krisis sebelumnya untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional. Selain menjaga nilai tukar, fokus pemerintah saat ini juga diarahkan pada penguatan investasi, penciptaan lapangan kerja, dan pengendalian inflasi agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga. Di tengah tekanan global, Indonesia dinilai masih memiliki peluang untuk mempertahankan stabilitas ekonomi apabila koordinasi kebijakan berjalan efektif. Pernyataan Airlangga pun diharapkan dapat memberikan keyakinan kepada pelaku pasar dan masyarakat bahwa kondisi pelemahan rupiah saat ini masih berada dalam batas yang dapat dikendalikan pemerintah.






