Jakarta, 28 Oktober 2026 – PT Indofarma Tbk memperkuat arah pengembangan industri farmasi nasional melalui pemanfaatan keanekaragaman hayati atau biodiversitas Indonesia sebagai sumber inovasi produk kesehatan. Langkah tersebut menempatkan kegiatan penelitian, pengembangan teknologi, dan hilirisasi sebagai bagian penting dalam menciptakan produk bernilai tambah. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya hayati yang berpotensi dimanfaatkan untuk pengembangan bahan baku obat, obat herbal, serta produk kesehatan berbasis bahan alam. Namun, potensi tersebut membutuhkan dukungan penelitian ilmiah agar dapat dikembangkan menjadi produk yang memenuhi standar keamanan, mutu, dan manfaat. Penguatan hilirisasi juga dipandang sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan nilai ekonomi sumber daya alam di dalam negeri. Melalui pendekatan tersebut, Indofarma diarahkan untuk berkontribusi pada pengembangan ekosistem farmasi nasional yang lebih inovatif dan berdaya saing.
Hilirisasi biodiversitas merupakan proses mengembangkan sumber daya hayati menjadi produk yang memiliki manfaat ekonomi dan dapat digunakan oleh masyarakat. Dalam industri farmasi, proses tersebut tidak berhenti pada pengumpulan atau pengolahan bahan alam, tetapi mencakup identifikasi senyawa aktif, pengujian laboratorium, standardisasi bahan baku, hingga pengembangan formulasi. Setiap tahapan memerlukan dukungan tenaga peneliti, fasilitas teknologi, dan sistem pengendalian mutu yang memadai. Pengembangan produk berbasis biodiversitas juga membutuhkan pemahaman mengenai karakteristik tanaman, mikroorganisme, serta bahan biologis lain yang berpotensi digunakan dalam bidang kesehatan. Tanpa penelitian yang terstruktur, kekayaan hayati berisiko hanya dimanfaatkan sebagai komoditas mentah dengan nilai tambah terbatas. Karena itu, keterhubungan antara penelitian dan kegiatan industri menjadi salah satu unsur penting dalam membangun rantai nilai farmasi berbasis sumber daya domestik.
Komitmen tersebut menjadi pembahasan dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 yang berlangsung di Hotel Fairmont, Jakarta, pada Selasa, 27 Oktober 2026. Indofarma berpartisipasi sebagai penyelenggara bersama dalam diskusi bertema pemanfaatan biodiversitas Indonesia menjadi fitofarmaka bernilai tinggi melalui inovasi teknologi. Forum tersebut mempertemukan kalangan industri farmasi, akademisi, peneliti, dan pemangku kepentingan untuk membahas peluang pengembangan obat berbasis bahan alam. Direktur Utama Indofarma, Sahat Sihombing, menekankan bahwa kekayaan hayati Indonesia perlu dikembangkan secara lebih terarah melalui penelitian berkelanjutan. Menurutnya, tantangan utama bukan hanya menemukan tanaman yang berpotensi menjadi bahan obat, melainkan memastikan hasil penelitian dapat diolah menjadi produk yang aman dan memiliki manfaat teruji. Kerja sama antara perguruan tinggi dan industri menjadi unsur penting untuk mencapai tujuan tersebut.
Face Indonesia
+1
Sahat menjelaskan bahwa Indonesia memiliki banyak tanaman yang berpotensi dikembangkan menjadi bahan baku farmasi dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Selama ini, sebagian bahan alam masih dipasarkan dalam bentuk mentah sehingga nilai tambah dari proses pengolahan belum sepenuhnya dinikmati di dalam negeri. Melalui hilirisasi, bahan tersebut dapat dikembangkan menjadi ekstrak terstandar, senyawa aktif, maupun produk kesehatan yang memenuhi ketentuan regulasi. Proses pengembangan membutuhkan pengujian keamanan, pembuktian khasiat, serta penerapan teknologi untuk menjaga konsistensi mutu. Sahat menilai inovasi teknologi dapat membantu industri mengolah sumber daya hayati secara lebih efisien sekaligus meningkatkan daya saing produk. Namun, keberhasilan komersialisasi tetap bergantung pada hasil penelitian, pemenuhan standar produksi, dan persetujuan dari otoritas yang berwenang.
JawaPos.com
Dalam mendukung pengembangan produk berbahan alam, Indofarma memiliki fasilitas ekstraksi dan produksi obat tradisional yang telah memperoleh sertifikasi Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik atau CPOTB. Fasilitas tersebut menjadi salah satu modal perusahaan untuk menghubungkan hasil penelitian laboratorium dengan proses manufaktur. Pengembangan produk dapat diarahkan melalui beberapa kategori, mulai dari jamu, Obat Herbal Terstandar, hingga fitofarmaka sesuai tingkat pembuktian ilmiah yang dipersyaratkan. Setiap kategori memiliki ketentuan berbeda mengenai standardisasi, keamanan, dan pengujian manfaat. Karena itu, proses pengembangan tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan penggunaan tradisional atau klaim mengenai kandungan tanaman. Indofarma menempatkan penguatan teknologi produksi dan pengendalian mutu sebagai bagian penting dalam upaya meningkatkan nilai tambah bahan alam Indonesia.
Face Indonesia
+1
Penggunaan teknologi pengolahan modern turut menjadi perhatian dalam pembahasan hilirisasi biodiversitas. Teknologi ekstraksi, pemurnian, dan pengembangan formulasi dapat membantu menghasilkan bahan dengan karakteristik yang lebih konsisten. Selain itu, penerapan nanoteknologi menjadi salah satu pendekatan yang dapat diteliti untuk meningkatkan karakteristik formulasi bahan tertentu. Meski demikian, penggunaan teknologi baru tetap harus disertai pengujian untuk memastikan keamanan dan manfaatnya. Peneliti juga perlu memperhatikan variasi kandungan senyawa aktif yang dapat dipengaruhi oleh lokasi tumbuh, kondisi lingkungan, dan proses pengolahan tanaman. Dengan pengendalian yang baik, bahan baku hasil penelitian berpeluang memenuhi kebutuhan industri farmasi yang mensyaratkan mutu dan konsistensi tinggi.
Face Indonesia
Langkah konkret penguatan kolaborasi ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara PT Danantara Development Management Fund, Indofarma, Institut Teknologi Bandung, dan PT EBM Saintifik dan Teknologi. Penandatanganan berlangsung pada 27 Oktober 2026 sebagai bagian dari rangkaian DTIIF. Kerja sama tersebut melibatkan Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB Lavi Rizki Zuhal, perwakilan Danantara Ricardo Irwan Rei, Direktur Utama Indofarma Sahat Sihombing, serta Direktur Utama EBM Agus Chahyadi. Kesepakatan diarahkan untuk menjajaki pengembangan hasil penelitian ekstrak bahan alam dan turunannya menjadi bahan baku maupun produk farmasi. Ruang lingkupnya mencakup penelitian bersama, evaluasi teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta peluang investasi dan pendanaan inovasi. Nota kesepahaman tersebut merupakan landasan kolaborasi dan belum berarti seluruh produk yang direncanakan telah memasuki tahap produksi komersial.
Institut Teknologi Bandung
Dalam kerja sama tersebut, ITB berkontribusi melalui kepakaran di bidang farmasi, bahan alam, bioteknologi, dan rekayasa proses. Sementara itu, EBM Saintifik dan Teknologi berperan sebagai perusahaan berbasis hasil penelitian yang menjembatani inovasi akademik dengan kebutuhan industri. Salah satu hasil pengembangan EBM adalah MarkHerb, yaitu senyawa penanda yang digunakan untuk membantu standardisasi dan pengendalian mutu produk herbal. Kehadiran teknologi semacam ini penting karena industri membutuhkan metode pengujian yang dapat memastikan kesesuaian bahan baku dengan spesifikasi yang ditetapkan. Kolaborasi juga membuka peluang pengembangan prototipe, peningkatan skala produksi, transfer teknologi, dan publikasi ilmiah bersama. Selain manfaat industri, kerja sama tersebut berpotensi menghadirkan kesempatan magang, penelitian tugas akhir, serta pelatihan bagi mahasiswa dan peneliti.
Institut Teknologi Bandung
Selain tanaman obat yang telah umum digunakan, pengembangan bahan alam juga mencakup komoditas yang membutuhkan penelitian dan pengawasan regulasi secara khusus. Salah satu yang menjadi perhatian Indofarma adalah kratom, tanaman yang memiliki potensi ekonomi tetapi mengandung senyawa aktif dengan risiko kesehatan dan ketentuan pengawasan tersendiri. Sahat menyampaikan bahwa pengolahan bahan mentah menjadi produk bernilai tambah dapat membuka peluang ekonomi yang lebih besar dibandingkan penjualan komoditas tanpa pemrosesan. Namun, perusahaan menekankan perlunya kejelasan regulasi dan koordinasi dengan lembaga terkait sebelum mengembangkan produk tersebut lebih jauh. Persyaratan keamanan, pengendalian mutu, dan izin yang sesuai menjadi faktor utama dalam menentukan kelayakan pengembangan maupun pemasaran. Dengan demikian, potensi ekonomi suatu tanaman tidak dapat dijadikan dasar untuk mengabaikan risiko kesehatan dan kewajiban hukum.
Kemdiktisaintek
+1
Penguatan hilirisasi biodiversitas juga memiliki kaitan dengan upaya meningkatkan kemandirian industri kesehatan nasional. Pengembangan bahan baku domestik dapat membuka peluang pengurangan ketergantungan pada pasokan tertentu dari luar negeri apabila hasil penelitian terbukti layak dan dapat diproduksi secara berkelanjutan. Industri farmasi membutuhkan dukungan rantai pasok yang stabil, mulai dari budidaya tanaman, pengolahan bahan, penelitian, hingga produksi akhir. Karena itu, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada perusahaan manufaktur, tetapi juga pada petani, lembaga penelitian, regulator, dan penyedia pendanaan. Pemanfaatan biodiversitas perlu memperhatikan keberlanjutan lingkungan agar peningkatan kebutuhan bahan baku tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap sumber daya alam. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kekayaan hayati Indonesia untuk jangka panjang.
Melalui forum DTIIF 2026 dan kerja sama dengan Danantara, ITB, serta EBM, Indofarma memperlihatkan arah pengembangan industri farmasi yang lebih mengandalkan penelitian dan inovasi teknologi. Perusahaan berupaya memanfaatkan fasilitas produksi yang dimiliki untuk mendukung pengolahan hasil penelitian menjadi produk dengan standar mutu yang dapat dipertanggungjawabkan. Tantangan berikutnya adalah memastikan kolaborasi menghasilkan kegiatan riset yang terukur, teknologi yang dapat diterapkan pada skala industri, dan produk yang memenuhi persyaratan regulasi. Dukungan investasi dan pendanaan juga menjadi faktor penting karena pengembangan obat berbasis bahan alam membutuhkan waktu serta biaya penelitian yang tidak sedikit. Apabila dijalankan secara konsisten, hilirisasi biodiversitas berpeluang meningkatkan nilai tambah sumber daya Indonesia sekaligus memperluas kemampuan industri kesehatan nasional. Indofarma berharap sinergi antara dunia akademik, pengembang teknologi, dan sektor industri dapat menjadi fondasi bagi pengembangan produk farmasi berbahan alam yang aman, berkualitas, dan berdaya saing.




