Jakarta, 10 September 2026 – Nama Kamila Andini kembali menjadi perhatian setelah memperkenalkan film terbarunya, Empat Musim Pertiwi atau Four Seasons in Java. Film tersebut menjadi proyek panjang yang gagasannya telah tersimpan sejak 2017 dan berawal dari pengalaman Kamila ketika mengunjungi kawasan Gunung Bromo bersama keluarganya. Lanskap Bromo yang memperlihatkan beragam tekstur, suhu dan suasana dalam satu bentang alam membuatnya seperti melihat empat musim berada di tempat yang sama. Pengalaman visual tersebut kemudian berkembang menjadi gagasan mengenai empat fase kehidupan seorang perempuan. Hampir sembilan tahun setelah ide pertama muncul, Empat Musim Pertiwi akhirnya siap diperkenalkan kepada penonton internasional dan Indonesia.
Kamila Andini merupakan sutradara dan penulis skenario Indonesia kelahiran 1986 yang dikenal melalui karya-karya dengan pendekatan visual kuat dan cerita mengenai perempuan, keluarga, anak-anak serta kelompok yang kerap berada di pinggir kehidupan sosial. Ketertarikannya terhadap sinema berkembang menjadi karier yang membawanya ke berbagai festival film internasional. Alih-alih hanya menggunakan dialog sebagai pusat cerita, Kamila kerap menjadikan lingkungan, budaya dan bahasa sebagai bagian penting dalam membangun emosi karakter. Pendekatan tersebut membuat film-filmnya mempunyai identitas yang cukup mudah dikenali. Empat Musim Pertiwi melanjutkan karakter penyutradaraan tersebut dalam skala produksi yang lebih besar.
Perjalanan Kamila sebagai sutradara film panjang dimulai melalui The Mirror Never Lies. Film tersebut membawa namanya berkeliling ke lebih dari 40 festival internasional dan memperkenalkan pendekatan sinemanya kepada penonton global. Kamila kemudian membuat The Seen and Unseen yang semakin memperkuat reputasinya di dunia perfilman. Film itu diputar di Toronto dan memperoleh Grand Prix dalam program Generation Kplus Berlinale 2018. Keberhasilan tersebut menjadi salah satu tonggak penting yang menempatkan Kamila sebagai salah satu sutradara Indonesia dengan perjalanan festival internasional yang konsisten.
Namanya semakin dikenal melalui Yuni yang dirilis pada 2021. Film mengenai seorang remaja perempuan tersebut memenangkan Platform Prize di Toronto International Film Festival. Kamila kembali mendapatkan perhatian dunia melalui Before, Now & Then atau Nana yang tampil di Berlinale 2022. Film tersebut menghasilkan Silver Bear untuk penampilan pendukung dalam festival tersebut. Di luar film layar lebar, Kamila juga terlibat sebagai salah satu sutradara serial Gadis Kretek yang memperluas jangkauan karyanya kepada penonton internasional melalui platform digital.
Di balik sejumlah karya tersebut, gagasan Empat Musim Pertiwi sebenarnya sudah muncul sejak 2017. Kamila mendapatkan inspirasi ketika sedang berlibur bersama suaminya, produser dan sutradara Ifa Isfansyah, serta anak-anak mereka di Bromo. Kawasan tersebut memang menjadi salah satu destinasi yang beberapa kali dikunjungi keluarganya. Pada salah satu perjalanan, Kamila memperhatikan perubahan visual lanskap yang membuat satu kawasan seperti mempunyai karakter empat musim. Padahal, Indonesia secara geografis tidak mengalami empat musim sebagaimana negara-negara beriklim sedang.
Pengamatan tersebut kemudian dikaitkan Kamila dengan kehidupan perempuan. Empat musim dibayangkannya sebagai metafora untuk perubahan, pengalaman dan fase-fase yang harus dilewati seorang perempuan sepanjang hidup. Ide awal itu ditulis pada 2017, tetapi tidak langsung diproduksi menjadi film. Kamila menjalani berbagai proyek lain sementara konsep Empat Musim Pertiwi terus berkembang. Baru sekitar 2023, ia kembali mengembangkan gagasan tersebut secara lebih intens hingga akhirnya memasuki tahap produksi.
Bromo kemudian tidak sekadar digunakan sebagai latar yang menawarkan pemandangan menarik. Bentang alamnya menjadi bagian dari perjalanan psikologis tokoh utama bernama Pertiwi. Kemegahan alam di sekeliling karakter dibuat berlawanan dengan perasaan terasing yang dialaminya ketika kembali ke kampung halaman. Kamila melihat kontras tersebut sebagai metafora yang kuat karena suatu tempat dapat terlihat begitu indah tetapi sekaligus menghadirkan kesunyian bagi seseorang. Hubungan manusia, alam dan perubahan teknologi juga menjadi bagian yang dikembangkan dalam cerita.
Empat Musim Pertiwi mengikuti perjalanan Pertiwi yang kembali ke kampung halamannya setelah menghabiskan lebih dari satu dekade di penjara. Ia sebelumnya dihukum setelah membunuh seorang laki-laki dalam peristiwa yang berkaitan dengan upayanya mempertahankan diri dari kekerasan seksual ketika masih remaja. Kepulangannya kemudian membuka kembali pengalaman masa lalu yang selama bertahun-tahun belum selesai. Pertiwi harus berhadapan dengan lingkungan, orang-orang serta struktur kekuasaan yang pernah membentuk kehidupannya. Perjalanan tersebut perlahan berubah menjadi pencarian mengenai keadilan, rumah, identitas dan kedamaian bagi dirinya sendiri.
Cerita itu dibangun melalui perpaduan drama psikologis, misteri, fiksi ilmiah dan realisme magis. Salah satu unsur yang turut mendapatkan perhatian adalah kehadiran listrik dan teknologi dalam kehidupan masyarakat desa. Kamila menggunakan elemen tersebut untuk melihat hubungan antara kemajuan, alam dan manusia secara lebih kompleks. Barang-barang elektronik yang terbengkalai bahkan menjadi bagian dari unsur misterius dalam perjalanan Pertiwi. Pendekatan realisme magis digunakan untuk mengaburkan batas antara sesuatu yang dapat dijelaskan secara rasional dengan pengalaman karakter yang lebih personal.
Film ini dibintangi Putri Marino sebagai salah satu pemeran utama dengan dukungan Arya Saloka dan Christine Hakim. Produksinya melibatkan Forka Films bersama sejumlah mitra dari Indonesia dan berbagai negara. Ifa Isfansyah bertindak sebagai produser, sementara Batara Goempar menangani sinematografi. Jasmine Ng terlibat dalam penyuntingan dan Dita Gambiro menangani desain produksi. Kolaborasi lintas negara tersebut memperlihatkan skala Empat Musim Pertiwi yang berkembang jauh dari gagasan sederhana Kamila ketika berada di Bromo sembilan tahun sebelumnya.
Perjalanan internasional Empat Musim Pertiwi menjadi salah satu bagian penting menjelang penayangannya. Film tersebut terpilih masuk Centrepiece Programme Toronto International Film Festival 2026 yang berlangsung pada 10–20 September. Program tersebut menghadirkan puluhan film dari berbagai negara sehingga memberikan kesempatan bagi karya Kamila bertemu penonton internasional. Empat Musim Pertiwi juga dipersiapkan untuk hadir dalam rangkaian festival di Busan dan Tokyo. Kehadiran di sejumlah festival tersebut melanjutkan hubungan panjang Kamila dengan panggung perfilman internasional.
Setelah perjalanan festival, Empat Musim Pertiwi dijadwalkan memasuki bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026. Kehadiran film tersebut menjadi menarik karena proses kreatifnya berlangsung jauh lebih lama dibandingkan sejumlah proyek Kamila yang lebih dahulu dikenal publik. Dalam rentang waktu sejak 2017, gagasan awal mengenai empat musim terus mengalami perkembangan hingga menemukan bentuk cerita yang lebih kompleks. Pengalaman Kamila mengerjakan Yuni, Before, Now & Then hingga Gadis Kretek juga berlangsung ketika proyek tersebut masih berada dalam perjalanan panjang menuju produksi.
Empat Musim Pertiwi pada akhirnya menjadi gambaran mengenai cara Kamila Andini membangun cerita dari pengamatan sederhana terhadap sebuah tempat. Bromo yang awalnya merupakan tujuan perjalanan keluarga berkembang menjadi sumber inspirasi untuk membicarakan fase kehidupan perempuan, trauma, kekuasaan, alam dan pencarian kedamaian. Perjalanan hampir sembilan tahun menunjukkan sebuah gagasan film tidak selalu harus segera diwujudkan ketika pertama kali muncul. Bagi Kamila, waktu justru memberikan kesempatan untuk memperluas dan mematangkan cerita sebelum dibawa ke layar. Kini, lanskap Bromo dan perjalanan Pertiwi menjadi bagian dari karya terbaru sutradara Indonesia tersebut yang bersiap bertemu penonton dunia sebelum hadir di bioskop Tanah Air.





